Tak Semuanya Gelap
Teknologi kian
berkembang, apalagi di tengah pandemi seperti saat ini. Kebutuhan teknologi
meningkat pesat. Semua sektor membutuhkan teknologi untuk mengurangi pertemuan
secara langsung. Di satu sisi, hal ini berdampak baik, namun di sisi lain
justru tidak. Mari kita kuak dari sisi negatif terlebih dahulu, pandemi ini
membuat sebagian orang kehilangan pekerjaannya bahkan kehilangan nyawanya, para
siswa/i/mahasiswa/i merasa kehilangan pertemuan interaktif secara tatap muka dengan para pengajar,
sektor perdagangan mengalami permintaan yang menurun sehingga pendapatan pun turut menurun, beberapa bisnis pun
mengalami kemerosotan, politik kian carut marut, kebijakan pemerintah yang
tumpang tindih, dan masih banyak hal lainnya.
Namun, tak dapat
dipungkiri ternyata wabah pandemi Covid-19
ini pun ternyata membawa beberapa dampak positif, diantaranya banyak
bermunculan orang dermawan yang prihatin sehingga turut membantu para
masyarakat yang terdampak Covid-19. Banyak
dilaksanakannya webinar secara gratis untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan. Selain itu juga, kita diberikan waktu dan kesempatan untuk
muhasabah diri, membenah diri, apakah kita tetap beramal walau di kala
sendirian ataukah justru semakin lalai? Maa syaa Allaah.
Sebelumnya pernah
terlintas oleh kita bahwa “Mengapa pandemi ini tidak lantas usai?” Padahal kita
semua tahu bahwa teknologi berkembang begitu pesat, yang semulanya tidak ada
dan tidak mungkin bisa, tiba-tiba saja bermunculan. Semua kehebatan dan
kekuatan manusia kalah oleh virus kecil yang tak kasat mata. Subhanallaah, dari
sini kita paham betul bahwa hakikat seorang manusia adalah makhluk yang lemah
dan tak berdaya. Oleh karena itu, tidak ada yang patut kita sombongkan, karena
semua itu hanya titipan, semua itu milik Allaah SWT.. Mari coba kita renungkan,
jika manusia dianggap makhluk yang paling pintar. Jika benar, mungkin dalam
waktu satu hingga dua hari, mungkin paling lama sepekan manusia terpintar itu
dapat menciptakan vaksin atau obat untuk menyembuhkan pasien dan melenyapkan Covid-19 ini dari permukaan bumi.
Kemudian jika manusia dianggap sebagai makhluk terkuat. Apabila benar, mungkin
tidak akan ada manusia yang terjangkit virus ini. Sekalinya terkena, mungkin
akan sembuh dalam waktu satu sampai dua hari kedepan. Tetapi kenyataannya
bagaimana? Apakah benar? TIDAK! Tidak ada! Yang ada hanyalah kasus pasien Covid-19 yang kian meningkat setiap
harinya. Maka apa yang patut kita sombongkan wahai diri? Kita adalah makhluk
yang hina, sebagaimana firman Allaah SWT. yang dimuat dalam Q.S As-Sajdah ayat
8 yang berarti:
“kemudian Dia menjadikan keturunannya
dari saripati ari yang hina (air mani)”.
Kita pun adalah makhluk
yang lemah, sebagaimana firman Allah dalam Q.S An-Nisa ayat 28 yang berarti:
“Allah hendak
memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah”.
Lantas, masih mau
bersikap sombong sebagai manusia?
Lebih baik kita coba ambil sedikit
hikmah yang bertebaran di muka bumi ini, walau di tengah wabah pandemi melanda. Karena semua yang terjadi tak mungkin tanpa sebab, dan tak ada akibatnya. Semua
dapat terjadi karena izin Allaah SWT.. Saat ini yang dapat kita sama-sama
lakukan adalah memperbanyak berdo’a, merendahkan diri dihadapan Sang Pencipta Yang
Maha Penyembuh, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyanyang, Yang Maha Kuat. Sebab
tanpa bantuan dan kekuatan dari-Nya, kita tak akan bisa berada di titik hidup
kita saat ini.
Terakhir, tak mungkin
semua yang terjadi di muka bumi ini berakhir dengan sia-sia dan tanpa makna.
Karena dalam gua yang gelap sekalipun, pasti kita dapat melihat cahaya walau
hanya setitik. Tak semuanya gelap, tak semuanya hitam. Mari belajar dari
segelas kopi hitam. Yang hitam belum berarti pahit, karena ternyata dibalik
kopi tersebut telah dilarutkan satu atau beberapa sendok gula untuk memberi sedikit
rasa manis dalam kopi yang kamu minum. Begitupun dengan pandemi dan hidup ini.
Tak semuanya negatif, tak semuanya sulit, dibalik itu semua pasti akan selalu
ada hikmah yang dapat kamu petik. Semuanya tergantung cara berpikir dan kemauan
dari dalam dirimu!
Selamat memperbaiki
diri!
Salam literasi!
Comments
Post a Comment