Anak Investasi Orang Tua (?)
Tema ini sedang cukup
hangat diperbincangkan di dunia maya (re: twitter). Entahlah, saya disini hanya akan sekedar
berbagi opini saya mengenai hal tersebut. Bagiku anak memanglah investasi
terbesar bagi kedua orang tuanya. Mengapa? Tahu hadits tentang 3 amalan yang
tidak akan terputus walau kita telah wafat? Nah, menurutku poin utamanya adalah
hal tersebut.
Begini bunyi haditsnya:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga
perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang
sholeh”. (H.R Muslim)
Perlu di garis bawahi
bahwa do’a anak yang sholih/ah merupakan salah satu dari tiga amalan yang terus mengalir sebagai pahala walaupun telah
meninggal dunia. Maka sudah sepatutnya bahwa orang tua perlu mendidik dan membimbing anaknya sebisa
mungkin untuk menjadikan mereka sebagai anak yang sholih/ah dan berbakti pada
kedua orang tuanya. Karena hanya anak yang sholih/ah lah yang dapat menjadi
investasi akhirat bagi kedua orang tuanya.
Terlepas dari ramainya
bahwa anak itu merupakan investasi kedua orang tuanya yang perlu bekerja keras
untuk membantu kedua orang tuanya, membiayai adik-adiknya, dan lainnya.
Menurutku itu tidak sebanding dengan pengorbanan kedua orang tua kita selama
ini. Coba kita semua konversi seluruh
biaya yang telah kedua orang tua kita
keluarkan hingga saat ini.
Biaya persalinan : (isi masing-masing)
Biaya pendidikan : (isi masing-masing)
Biaya pengurusan : (isi masing-masing)
Biaya pengarahan : (isi masing-masing)
Biaya kasih sayang : (isi masing-masing)
Biaya kesabaran : (isi masing-masing)
Aaah jauh sekali, tak
mungkin sanggup kita membalas semua biaya dan keringat yang telah dikeluarkan
oleh kedua orang tua kita. Maka jangan pernah berkata kita hanya “diperbudak”
oleh kedua orang tua kita, jangan pernah berkata “anak hanya sebagai mesin
pencetak uang bagi keluarganya”. Tidak kawan, itu salah besar. Apapun yang kita
peroleh tak terlepas dari do’a dan dukungan keluarga kita, bukan sepenuhnya
hasil jerih payah kita sendiri. Jika berkenan ingin ku sedikit bertanya,
“Apakah
kemampuanmu begitu mumpuni sehingga kamu
begitu layak untuk mendapatkan posisi seperti yang kamu mau saat ini?”
“Apakah kamu yakin
semua do’a yang terkabul dan usaha yang telah dikerahkan seluruhnya berkat dirimu sendiri?”
Jika kamu menjawab
“Ya”, ku ingin sampaikan kepadamu bahwa pemikiranmu begitu kerdil, wawasanmu
kurang luas, dan hatimu sangat kotor. Tidak terima? Coba renungkan kembali!
Apakah kamu bisa
terlahir ke dunia tanpa mereka?
Apakah kamu bisa
merangkak, berjalan, berhitung, membaca, menulis secara otodidak?
Tidak kawan! Let’s
think hard!
Kita hanya manusia
lemah dan hina, tak memiliki apapun. Semua yang ada pada kita saat ini hanyalah
titipan belaka. Tak ada yang abadi, tak ada yang benar-benar kita miliki.
Sebenarnya dari makna
“investasi” saja kita sudah tahu bahwa seseorang yang berinvestasi dalam suatu
perusahaan, maka jika perusahaan mendapat keuntungan maka kedua belah pihak
akan mendapatkan laba sesuai dengan yang ia investasikan. Sebaliknya, jika
perusahaan rugi, maka kedua belah pihak harus bersedia menanggung kerugiannya
bersama. Begitu juga anak sebagai investasi kedua orang tuanya.
Perlu
diingat rezeki orang tua adalah rezeki bagi anak-anaknya. Sebaliknya rezeki
anak-anak pun rezeki bagi kedua orang tuanya.
Terakhir, Orang tua
tanpa anak hampa, anak tanpa orang tua tak akan ada.
Salam literasi!
Comments
Post a Comment